Penggunaan TIK untuk menyediakan layanan pendidikan memiliki potensi yang menjanjikan untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Di Indonesia, lebih dari 530.000 sekolah telah ditutup untuk mengurangi penyebaran virus (COVID-19).

Ini mempengaruhi 68 juta siswa prasekolah dan perguruan tinggi dan membuat kebutuhan akan EdTech lebih mendesak. Situasi ini membutuhkan peningkatan cepat dan besar dalam penggunaan EdTech di negara ini, yang diharapkan memiliki dampak yang bertahan lama di pasar.

Survei Lansekap Edtech terbaru yang diterbitkan di Indonesia mengungkapkan bahwa sektor EdTech di Indonesia melacak hasil global. Survei menunjukkan pertumbuhan platform lokal seperti Harukaedu (platform yang menawarkan kualifikasi pendidikan tinggi online), Ruangguru (platform pembelajaran online interaktif untuk siswa TK hingga siswa kelas 12 di Indonesia) dan Sakuline’s Cakap (platform untuk kursus pembelajaran bahasa). Namun, secara umum, sektor ini baru mulai berkembang

Banyak lembaga pendidikan, guru, dan orang tua enggan mengadopsi teknologi karena wabah ini, karena mereka semua sekarang bergantung pada metode pendidikan online dan jarak jauh.

Kami berharap epidemi ini mempercepat penerapan metode e-learning dan mendorong lembaga pendidikan untuk menggunakan pendidikan jarak jauh untuk meningkatkan ketahanan terhadap krisis di masa depan.

Data Google Trends menunjukkan bahwa pencarian untuk istilah “pembelajaran di rumah” dan istilah serupa telah meningkat secara signifikan, yang mencerminkan peningkatan permintaan online dan pendidikan jarak jauh. Indikasi lain adalah peningkatan kuat dalam lalu lintas situs web dan aplikasi unduhan untuk platform EdTech utama sejak Februari 2020.

EdTech, yang menggunakan TIK untuk menyediakan layanan pendidikan, memiliki potensi yang menjanjikan untuk meningkatkan hasil. belajar. Di Indonesia, lebih dari 530.000 sekolah telah ditutup untuk mengurangi penyebaran virus(COVID-19).

Ini mempengaruhi 68 juta siswa prasekolah dan perguruan tinggi dan membuat kebutuhan akan EdTech lebih mendesak. Situasi ini membutuhkan peningkatan cepat dan besar dalam penggunaan EdTech di negara ini, yang diharapkan memiliki dampak yang bertahan lama di pasar.

Meningkatnya permintaan akan pembelajaran online mendorong pertumbuhan yang fenomenal untuk platform EdTech utama di Indonesia. Dua produk EdTech paling populer menawarkan sistem manajemen pembelajaran untuk kolaborasi guru-siswa dan manajemen pengajaran online, serta alat kelas interaktif untuk sesi pembelajaran interaktif dan interaktif, seperti G-Suite untuk pendidikan, Microsoft untuk pendidikan, Zoom untuk Microsoft, dll.

Pendidikan Di Kala Pandemi

Namun, tidak semua peserta dalam pendidikan dapat mengakses EdTech karena sistem pendidikan Indonesia tidak siap untuk dengan cepat menambahkan pembelajaran online. Banyak siswa pedesaan tidak memiliki akses ke sana dan banyak siswa berpenghasilan rendah tidak memiliki akses ke alat untuk menggunakan alat EdTech.

Ini berbanding terbalik dengan pilihan teknologi rendah seperti televisi: 95% siswa memiliki akses ke televisi pada minggu sebelumnya (96,6% di daerah perkotaan dan 92,3% di daerah pedesaan) menurut data dari Survei Sosial – nasional ekonomi 2018 ( SUSENAS) untuk membantu mengatasi berbagai masalah terkait dengan akses yang sama Pada tanggal 13 April, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program pendidikan yang disebut Learning from Home.

Meskipun permintaan meningkat, sektor EdTech di Indonesia menghadapi tantangan dalam meniru keberhasilan teknologi yang telah terjadi di sektor lain dan di negara lain.
Hambatan sisi penawaran meliputi:

Kesulitan mendapatkan dana

  • Biaya marjin tinggi, khususnya untuk mendapatkan dan mempertahankan pelanggan baru
  • Kurangnya sumber daya bakat untuk pengembangan dan pemeliharaan produk.

Selain itu, ada kendala di sisi permintaan, termasuk:

Kurangnya kemauan untuk membayar sekolah dan orang tua
Kurangnya literasi digital, terutama dari provider

  • Infrastruktur digital yang lemah, konektivitas terbatas di daerah terpencil dan kecepatan pengunduhan di seluruh Indonesia.

Hambatan yang disebutkan di atas semakin rumit dengan tumpang tindih tanggung jawab antara pemerintah daerah dan pusat terhadap alat pendidikan baru, diikuti oleh terbatasnya kapasitas sistem pendidikan publik dan oleh kurangnya insentif untuk memperkirakan potensi produk EdTech.

Selain itu, peraturan perlindungan konsumen asli Indonesia.Terutama berkaitan dengan keamanan data dan privasi, itu dapat menempatkan data siswa dan sekolah dalam bahaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like